Kejadian hilangnya Reni di Gunung Cikuray sangat memprihatinkan. Berikut kronologisnya yang bersumber dari asigsadja.multiply.com. Rombongan pendaki berjumlah 13 orang. Ketika akan melakukan perjalanan turun rombongan dibagi menjadi 2 kelompok. 8 orang di depan dan 5 orang di belakang. Reni termasuk dalam rombongan 5 orang di belakang. Di wilayah tanjakan Bohong, Reni kehausan, sedangkan persediaan minum habis. Kondisi Reni pun dalam keadaan lemah. Kemudian 3 orang rekannya pun pergi mencari air. Reni ditemani oleh Asep. Namun ketiga rekannya tersebut tidak kunjung kembali dan kondisi Reni makin lemah. Asep pun menyusul ketiga rekannya dan menyuruh Reni untuk menunggu. 20 menit kemudian Asep kembali dan Reni sudah tidak ada di tempatnya.
Dalam pendakian ke Semeru tahun 2007, rombongan saya pernah mengalami kejadian yang hampir mirip. Turun dari puncak Semeru, 2 orang rekan saya salah mengambil jalur ketika menuruni medan pasir sebelum masuk hutan lagi, mungkin sekitar Cemoro Tunggal. Menurut cerita rekan saya, medan yang sangat ekstrim menyebabkan kesulitan untuk kembali naik dan berpindah ke jalur yang benar. Awalnya mereka masih bersama. Namun ketika salah seorang rekan saya sudah berhasil naik, rekan yang lain tidak terlihat dan tidak menjawab panggilan. Dalam kondisi dehidrasi dan kelelahan, rekan saya yang berhasil naik tadi memutuskan untuk kembali ke Kalimati, tempat kami berkemah. Untung saja, rekan saya yang masih tertinggal ternyata ketiduran karena kelelahan sehingga tidak menjawab panggilan, dan dapat kembali dengan selamat.
Kedua cerita tersebut menggelitik pikiran saya. Bagaimana jika saya berada di situasi tersebut. Suatu pilihan yang sulit menurut saya. Kita berada dalam situasi antara mencari sesuatu yang dapat menolong? Atau tetap bersama dengan rekan kita. Asep, jika tetap menunggu ketiga rekannya kembali, bisa-bisa Reni dehidrasi berat dan tidak tertolong. Tentu Asep tidak tinggal diam, ia juga ingin melakukan sesuatu. Namun meninggalkan Reni seorang diri juga bukan ide yang baik.
Sedangkan cerita tentang rekan saya yang berhasil naik duluan. Tentu ia juga tidak ingin meninggalkan rekan saya yang lainnya. Namun dalam kondisi dehidrasi dan lemah, membutuhkan suatu kerja keras untuk kembali turun dan mencari rekan saya yang lain. Bisa-bisa ia juga tidak selamat.
Apa yang kita lakukan jika menjadi Asep ataupun rekan saya? Mana yang terbaik?
Sebenarnya kejadian ini sering dialami dalam kegiatan pendakian gunung. Suatu rombongan yang berangkat bersama dalam prakteknya ternyata kemudian berjalan sendiri-sendiri. Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan kekuatan fisik tiap anggota rombongan. Terkadang anggota rombongan tersebut lupa untuk berjalan bersama. Ingin cepat sampai dan sebagainya. Atau juga karena mereka percaya, rekannya bisa menjaga diri sendiri. Namun kondisi fisik seseorang tidak selalu sama. Dan di alam segala sesuatunya bisa terjadi.
Bagaimana menjaga keselamatan dalam pendakian? Diawali dengan manajemen perjalanan yang baik. Urutan dalam rombongan ketika melakukan perjalanan juga perlu diatur. Dibutuhkan seorang sweeper yang ‘lebih’ dari pada rekan-rekannya yang lain. Persediaan air juga harus diperhitungkan, dilengkapi dengan kemampuan survival. Sebisa mungkin selalu bersama dalam rombongan. Mungkin saja 8 orang rekan Reni yang turun duluan ternyata masih memiliki persediaan air.
Yang jelas jangan pernah bermain-main ketika berada di alam dan jangan pernah meremehkannya. Tak pernah kita tahu apa yang akan terjadi. Karena itu segala sesuatunya harus dipersiapkan sesempurna mungkin dan tidak lupa selalu berserah pada Tuhan, segalanya yang mustahil menjadi mungkin karenaNya.
[Tulisan ini saya buat dengan pengalaman dan pengetahuan yang sangat minim. Semoga rekan-rekan yang membaca bisa membantu menambahkan 'ilmu' saya. Terima kasih.]