Pendakian

thE aDvEnt-UrE — Tags: — yc @ 2:18 pm

Kejadian hilangnya Reni di Gunung Cikuray sangat memprihatinkan. Berikut kronologisnya yang bersumber dari asigsadja.multiply.com. Rombongan pendaki berjumlah 13 orang. Ketika akan melakukan perjalanan turun rombongan dibagi menjadi 2 kelompok. 8 orang di depan dan 5 orang di belakang. Reni termasuk dalam rombongan 5 orang di belakang. Di wilayah tanjakan Bohong, Reni kehausan, sedangkan persediaan minum habis. Kondisi Reni pun dalam keadaan lemah. Kemudian 3 orang rekannya pun pergi mencari air. Reni ditemani oleh Asep. Namun ketiga rekannya tersebut tidak kunjung kembali dan kondisi Reni makin lemah. Asep pun menyusul ketiga rekannya dan menyuruh Reni untuk menunggu. 20 menit kemudian Asep kembali dan Reni sudah tidak ada di tempatnya.

Dalam pendakian ke Semeru tahun 2007, rombongan saya pernah mengalami kejadian yang hampir mirip. Turun dari puncak Semeru, 2 orang rekan saya salah mengambil jalur ketika menuruni medan pasir sebelum masuk hutan lagi, mungkin sekitar Cemoro Tunggal. Menurut cerita rekan saya, medan yang sangat ekstrim menyebabkan kesulitan untuk kembali naik dan berpindah ke jalur yang benar. Awalnya mereka masih bersama. Namun ketika salah seorang rekan saya sudah berhasil naik, rekan yang lain tidak terlihat dan tidak menjawab panggilan. Dalam kondisi dehidrasi dan kelelahan, rekan saya yang berhasil naik tadi memutuskan untuk kembali ke Kalimati, tempat kami berkemah. Untung saja, rekan saya yang masih tertinggal ternyata ketiduran karena kelelahan sehingga tidak menjawab panggilan, dan dapat kembali dengan selamat.

Kedua cerita tersebut menggelitik pikiran saya. Bagaimana jika saya berada di situasi tersebut. Suatu pilihan yang sulit menurut saya. Kita berada dalam situasi antara mencari sesuatu yang dapat menolong? Atau tetap bersama dengan rekan kita. Asep, jika tetap menunggu ketiga rekannya kembali, bisa-bisa Reni dehidrasi berat dan tidak tertolong. Tentu Asep tidak tinggal diam, ia juga ingin melakukan sesuatu. Namun meninggalkan Reni seorang diri juga bukan ide yang baik.

Sedangkan cerita tentang rekan saya yang berhasil naik duluan. Tentu ia juga tidak ingin meninggalkan rekan saya yang lainnya. Namun dalam kondisi dehidrasi dan lemah, membutuhkan suatu kerja keras untuk kembali turun dan mencari rekan saya yang lain. Bisa-bisa ia juga tidak selamat.

Apa yang kita lakukan jika menjadi Asep ataupun rekan saya? Mana yang terbaik?

Sebenarnya kejadian ini sering dialami dalam kegiatan pendakian gunung. Suatu rombongan yang berangkat bersama dalam prakteknya ternyata kemudian berjalan sendiri-sendiri. Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan kekuatan fisik tiap anggota rombongan. Terkadang anggota rombongan tersebut lupa untuk berjalan bersama. Ingin cepat sampai dan sebagainya. Atau juga karena mereka percaya, rekannya bisa menjaga diri sendiri. Namun kondisi fisik seseorang tidak selalu sama. Dan di alam segala sesuatunya bisa terjadi.

Bagaimana menjaga keselamatan dalam pendakian? Diawali dengan manajemen perjalanan yang baik. Urutan dalam rombongan ketika melakukan perjalanan juga perlu diatur. Dibutuhkan seorang sweeper yang ‘lebih’ dari pada rekan-rekannya yang lain. Persediaan air juga harus diperhitungkan, dilengkapi dengan kemampuan survival. Sebisa mungkin selalu bersama dalam rombongan. Mungkin saja 8 orang rekan Reni yang turun duluan ternyata masih memiliki persediaan air.

Yang jelas jangan pernah bermain-main ketika berada di alam dan jangan pernah meremehkannya. Tak pernah kita tahu apa yang akan terjadi. Karena itu segala sesuatunya harus dipersiapkan sesempurna mungkin dan tidak lupa selalu berserah pada Tuhan, segalanya yang mustahil menjadi mungkin karenaNya.

[Tulisan ini saya buat dengan pengalaman dan pengetahuan yang sangat minim. Semoga rekan-rekan yang membaca bisa membantu menambahkan 'ilmu' saya. Terima kasih.]kumbopala

Rindu Rinjani

thE aDvEnt-UrE — Tags: — yc @ 12:25 pm

Aku rindu merahmu di kala fajar menyingsing..

Aku rindu melihatmu utuh, dari kaki sampai puncakmu

Aku rindu panasnya hamparan sabana Sembalun di siang hari..

Aku rindu bukit penyesalanmu..

Aku rindu menanjak lalu turun lagi..

Lalu menanjak, lalu turun lagi..

Sampai akhirnya tiba di Pelawangan Sembalun dan melihat danaumu yang hijau..

Aku rindu melihat jalur menuju puncakmu yang tampak sempit sekali itu..

Aku rindu terpaan angin dingin ketika menuju titik tertinggimu..

Aku rindu mengumpulkan segenap niat..

Merapikan kembali keberanian untuk berdiri di sana ketika jarak kita hanya 10 meter..

Aku rindu berdiri di atas keputusasaan dan ketakutan, di atas puncakmu itu..

Aku rindu melihat monyet-monyet berbulu tebal itu menyambutku usai puncak..

Aku rindu melihat hamparan Segara Anak sambil memandangi Gunung Baru Jari..

Aku rindu melihat para pemancing itu mengumpulkan ikan-ikan gemukmu dari danau..

Aku ingin merasakan Air Kalakmu..

Aku mau melihat Goa Susu..

Aku rindu keteduhan Senaru..

Aku rindu segalanya tentangmu Rinjani..

Tentang persahabatan..

Tentang perjuangan meraih mimpi..

Tentang keberanian..

Tentang mengalahkan keputusasaan..

Sambut aku lagi dalam keajaibanmu..

Rinjani..

Memahami

thE aDvEnt-UrE — Tags: — yc @ 7:17 pm

Saya paham kenapa kalian tidak pernah mengerti kenapa kami suka naik gunung, kenapa kami suka bersusah payah memanggul carier yang berat, kenapa kami selalu rindu merasakan kedinginan di atas sana, kenapa kami menantikan saat berdiri di puncak gunung dan makin menyadari kebesaranNya. Seperti juga kami tidak bisa paham kenapa kalian tidak pernah lelah jalan-jalan di mall, kenapa kalian suka habiskan uang kalian di tempat makan yang populer, kenapa kalian habiskan waktu kalian untuk berbelanja barang mewah dan bermerk.

Saya pun paham kenapa orang tua saya tidak pernah mengijinkan saya naik gunung, tidak pernah mengijinkan saya pergi jauh dengan sepeda motor. Satu kata, sayang. Karena mereka menyayangi saya dan tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa saya.

Tapi saya juga ingin dipahami bahwa naik gunung tidak seburuk yang kalian pikirkan. Bahwa jauh lebih banyak hal berharga dari pada sekedar lelah yang akan kami dapat ketika naik gunung. Bahwa kami tidak sembarang, bahwa kami persiapkan semuanya sesempurna mungkin. Bahwa bukan kami tidak menghargai hidup, namun sebaliknya, ini salah satu cara kami menghargai hidup. Bahwa kematian tidak ditentukan oleh kegemaran naik gunung. Kalaupun hidup saya harus berakhir di sana, saya akan mati dengan tersenyum, dan saya berharap kematian itu bukan karena kecerobohan saya, tapi karena Tuhan ingin membawa saya ke puncak yang lebih tinggi.

Saya sangat paham dan saya tidak ingin berhenti karena ketidakpahaman kalian. Biar waktu yang akan menuntun kalian untuk memahami kami. Atau bahkan, biar alam sendiri yang menuntun kalian pada pemahaman itu. Jadi jangan cibir kami lagi ketika kami berjalan agak membungkuk karena beban carier kami.

Memandangi Danau Segara Anak, Gunung Rinjani.

Memandangi Danau Segara Anak, Gunung Rinjani.

Petualangan

thE aDvEnt-UrE — yc @ 7:12 pm

Petualangan itu adalah tentang panggilan hati, tentang jiwa. Bukan tentang nafsu untuk menaklukan. Bukan tentang kesombongan. Bukan tentang seseorang. Jangan pernah katakan dirimu seorang petualang, jika semua itu yang menjadi motivasimu. Petualangan tidak akan pernah mati, petualangan tidak akan pernah usai, jika ia yang memenuhi hati, pikiran dan jiwamu. Kau akan merasakan hampa dan kehilangan separuh bahkan seluruh jiwamu jika tubuhmu tidak mendapat asupan udara dari alam bebas. Jangan pernah biarkan ia mati. Tidak dengan kesibukanmu, tidak dengan aktifitasmu, tidak dengan larangan-larangan mereka, tidak dengan ”kata orang”, tidak dengan seseorang yang kau cintai, tidak dengan seseorang yang ’katanya’ mencintaimu. Selamat berpetualang.

Keindahan dari Pasar Bubrah, Gunung Merapi.

Keindahan dari Pasar Bubrah, Gunung Merapi.

Membuka Mata Dalam Dinginnya Puncak Mahameru

thE aDvEnt-UrE — yc @ 1:26 am

Catatan Perjalanan Pendakian Gunung Semeru
17-20 Mei 2007

Expedition Team
1.Topan
2.Sinung
3.Gigih
4.Ipeh
5.Wawan
6.Yessi

Rabu,16 Mei 2007
22:00 malem itu qta ngumpul bareng di rumah mas sinung..
sambil siap2,sambil nunggu kereta MATARMAJA yang berangkat jam 01.30 nanti..
tuh rumah berantakan banget..
qta emang lagi packing ulang,soalnya bahan makanan yang dibeli mas sinung & mas topan
baru aja dibagiin..
carier qta udah berat,ditambah persediaan makan bwt 4hari jadi tambah berat lagi..
tapi itu ngga menyurutkan niat kami bwt mendaki puncak mahameru..
ngga sabar deh pengen cepet2 berangkat..

(more…)

(c) 2010 Yessi’s Blog
GoGreenGold Theme designed by Matthew Reese